
Salah satu faktor utama yang memicu ketakutan ini adalah adanya kekhawatiran bahwa pernikahan bisa membawa lebih banyak masalah daripada kebahagiaan. Banyak wanita yang merasa takut terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia, di mana mereka mungkin tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari pasangan, atau bahkan menghadapi tekanan dari keluarga besar. Ketakutan ini diperkuat oleh berbagai cerita horor tentang pernikahan yang beredar di media sosial, seperti suami yang tidak membela istri di depan keluarga, pasangan yang tidak mau berbagi tanggung jawab rumah tangga, atau bahkan ketidaksetiaan dalam pernikahan. Kisah-kisah ini, meski mungkin hanya dialami oleh sebagian kecil orang, tetap memiliki dampak yang besar karena sering kali diperbesar oleh narasi media sosial.

Namun, penting juga untuk diingat bahwa ketakutan terhadap pernikahan yang diungkapkan melalui tren "marriage is scary" ini tidak selalu mencerminkan realitas pernikahan itu sendiri. Meskipun ada banyak tantangan yang dihadapi dalam pernikahan, tidak semua pengalaman pernikahan berakhir dengan kegagalan atau ketidakbahagiaan. Banyak pasangan yang mampu membangun hubungan yang sehat dan saling mendukung, bahkan di tengah berbagai rintangan. Oleh karena itu, tren ini juga harus dilihat dengan kacamata kritis, dan tidak diambil sebagai gambaran umum dari semua pernikahan.
Akhirnya, meskipun tren "marriage is scary" ini dapat dipahami sebagai respons terhadap berbagai kekhawatiran yang sah, penting untuk diingat bahwa pernikahan adalah sebuah perjalanan yang sangat personal dan unik bagi setiap orang. Apa yang menakutkan bagi satu orang mungkin tidak relevan bagi orang lain. Oleh karena itu, penting untuk tidak terjebak dalam narasi negatif yang beredar di media sosial, tetapi sebaliknya, mencari pemahaman yang lebih dalam tentang apa yang benar-benar diinginkan dalam sebuah hubungan, serta bagaimana membangun pernikahan yang sehat dan bahagia.

